Wednesday, March 5, 2014

PEPES & BOTOK, Tak Terpisahkan...

Kemarin-kemrin belum sempat ke upload niiihhh...

Ternyata yah, ada fakta unik lho tentang nenek moyang kita...
Orang-orang barat baru ramai tentang botox beberapa tahun lalu kan?
Sementara yah, botok ini sudah diciptakan oleh mbah2nya kita dari duluuuuuuu banget..
Nggak perlu disuntik, langsung dimakan saja bikin sehat...
asli deh... ^_^

Yah, yuk yak yuuuukkk.. balik ke botok dan pepes...
Setiap beride buat botok, pasti ujung-ujungnya nyambung sama pepes...
Karena setiap kali ambil daun, Kinar selalu bilang "bikin pepes ya ma?"
Alhasil, pepes pun masuk daftar.. ^_^

Dan kali ini berhubung abang tukang ikan tidak lewat, yang jadi korban pepes adalah ayam...

Botok sayur yang ber-ingredients teri, daun mlinjo, kacang panjang, terong lalap memang selalu bikin perut laper dan membuyarkan itu yang namanya program diet...

Sementara pepes ayam kali ini, satu ekor dibuat full pepes dibagi-bagi dan dibungkus daun..
Yang istimewa dari pepes kali ini adalah TJ mau nyicipin dan jadi doyan banget..
Dan akhirnya, semua yang dewasa mengalah untuk tidak menyentuh pepes2 ini..
Mereka sudah menjadi milik duo raja kecil... ^0^

botok (kiri) dan pepes ayam (kanan) siap dibungkus

sudah dibungkus, rukun di satu dandang, siap dikukus































pepes ayam (kanan) dan botok (kiri) siap santap

















Buat yang belum pernah mencicipi dua masakan ini.. (sebenernya 3, pepes ikan belum ada fotonya...)
Hati-hati... karena makanan ini ada efek sampingnya:
1. Membuyarkan program diet
2. Bisa bikin kalap, sehingga nasi dibuat sedikit, tapi lauk bisa langsung 3 bungkus sekali makan
3. Bisa bikin ketagihan...

^0^

LET'S MAKE OVER THE FRAME

Punya beberapa frame foto yang udah kotor atau sedikit rusak?
Sementara mau dibuang sayang...
Apalagi masih belum pernah dipakai, tapi karena kelamaan disimpan jadi bulukan?

Yuk, make over aja...
Kalo dah kliatan cantik, sah-sah aja buat gift atau kenang2an orang tersayang, kok...


























Semoga sukaaaaa.... ^0^

LAPTOP POUCH

Berawal dari:
- cari pouch atau cover laptop nggak pernah dapet, dari yang nggak pas bentuknya.. gambarnya, yang suka tapi nggak ada ukurannya, dll yang intinya ribet sendiri... ^_^
- punya kain agak bertumpuk di rumah (sementara ukuran nanggung semua...)
- punya mesin jahit di rumah (yang ini yang nanya mulu suami "kok nggak dipake2?")

Nah, mulailah iseng ngukur, bolak-balikin tuh laptop, trus ambil kain...
hehehe.. dan jadilah pouch untuk laptop-ku..



















Kalau aku bilang sih bagus... hehehehehehe...
Yang muji dan bilang bagus, aku doa'in masuk surga yaaaa...

^0^

COIN BOX

Setiap kali dapat kembalian uang koin, langsung deh berasa maleeessss...
Gimana enggak? tuh uang koin dah numpuk dan bertebaran...
*hihihihi.. kayaknya cuman aku doang yah yang begitu...

Tapi whatever deh, yang pasti selain aku pasti ada juga yang pusing dengan koin-koin ini..
Nah, berhubung aku juga punya beberapa kotak bekas, aku pake deh buat boks koin-koin itu agar tidur nyenyak dan terhindar dari pelototanku...
Lumayan lah, paling nggak jadi kelihatan lebih rapi dan si mbak juga nggak harus kelamaan cari nilai koinnya...




















Gimana? pasti ada dooonnggg boks yang nggak kepake?
Boks apa aja bisa kok...
Daripada masukkin celengan, yang ada beberapa bulan lagi bakal menghadapi masalah yang sama karena harus dibuka...

Semoga sukaaaaa.... ^0^

Saturday, March 1, 2014

DUREN MANTAFS…


Durian yang dimakan bajing allias tupai karena sudah masak pohon...




















Penasaran dengan durian Muara Enim, perburuan pun dimulai walau harus menempuh waktu perjalanan lebih dari 1 jam. Tapi hasil perburuan sangat tidak mengecewakan..
Hari pertama dapat durian yang enak… 
Walau karena kemalaman dapat duriannya seadanya, tapi tetap saja enak…
















Perburuan kedua, hmmm… aku dapat durian yang selama ini kuidamkan. Durian kecil dengan rasa selangit.. Daaaaaannn aku dapat!!! Yihaaaaaa….
Menurut si abang penjual, kalau mau beli durian yang terpilih jangan datang terlalu sore, jam 12 atau jam 1 siang waktu terbaik cari durian di situ, karena banyak durian baru datang dan bagus-bagus…

beberapa durian hasil perburuan dan diculik pulang.. ^_^

Ini yang kata abangnya kunyit.. warnanya kuning dan rasanya selangit...

nah yang ini kata si abang masih masuk tembaga, rasa nggak selegit yang kunyit tapi tetep maknyuuuussss



















































Waktu aku tanya apa semua masak di pohon? Si abang bilang, tak hanya masak.. semua jatuh dari pohon…
Dipikir-pikir dan kata suamiku juga, pohon durian di Sumatera semua di hutan dan pohonnya besar, tak mungkin ada yang mau repot-repot ambil atau mengikatnya seperti di Jawa…
Hmmm.. makanya duriannya pun memang nikmat, masak pohon…

Yang berbeda dan menjadi satu hal baru yang kayaknya bakal keterusan dari pengalaman makan durian di sini adalah tingkat kematangan. Durian di daerah ini yang dianggap terbaik adalah yang sudah masak pohon tapi masih segar, jadi tidak terlalu matang di dalam (kalo orang Jawa bilang sudah dalu).
Jadi rasanya di mulut itu masih keras, tapi sudah matang, dan tidak lembek.. Itu yang bikin maknyus…
Yah, pastinya bisa dapat rasa ini di sini karena memang buah durian ini tidak diambil saat masih muda, tapi benar-benar sudah matang…
Jika durian ang sudah dianggap terlalu matang atau lembek akan dibuat bahan tempoyak.

Yang aku dapat di sini macamnya menurut si abang, durian yang putih, kunyit (ini yang kecil tapi luar biasa enaknya… slurrrrppp), dan tembaga…  Yang putih biasa atau kuning biasa juga ada, tapi tetp deh menurutku enak…

Yang utama sih harganya itu lhooo… menurutku muraaaaahhhh banget…
Bayangin aja… dapet durian istimewa walau kecil-kecil sejumlah 13 bh dengan harga 150 ribu saja!
Hmmm… jadi pengeeeeeennnn….


DENGKUL OH DENGKUL



Foto visum.. ^_^
















Hari keempat saat hendak berburu durian, karena terburu-buru cari minuman untuk anak-anak, secara tiba-tiba aku jatuh persis di depan Indomart. Untung Kinar yang saat itu aku gandeng tidak ikut jatuh.

Selidik punya selidik, kenapa aku jatuh karena oh karena aku terburu-buru, jalan setengah berlari, dan tidak lihat ada kawat rangka cor yang menjulur dan sukses mengait kakiku. Hasilnya dengkul sedikit babak belur…

Dan yang baru aku sadari setelah kembali ke rumah adalah dompetku yang ikut tercabik…
Hmmmm… nggak kebayang kalau saat itu aku tidak membawa dompet, mungkin tanganku yang sudah tercabik…


















Dari kejadian ini saja, karena aku orang Jawa, ada dua untung lho..
Pertama, untung Kinar tidak ikut terjatuh..
Kedua, untung ada dompet di tanganku…
^_^

PALEMBANG, Perjalanan Pertama Pulau Sumatera TJ dan Kinar




Yeaaaaayyyy… akhirnya untuk pertama kalinya TJ dan Kinar akan menginjak tanah Sumatera.
Walau trip ini sudah direncanakan sebulan sebelumnya, tapi nyaris saja gagal. Seminggu sebelum berangkat tiba-tiba TJ panas tinggi berhari-hari. Ternyata terkena tipus dan DB (walau trombosit belum terlalu drop, tapi sudah terlihat merosot).
Dengan berat hati mengabari yangkung dan uti-nya yang sudah duluan ke Palembang bahwa mungkin trip ini akan dibatalkan mengingat penyakitnya tidak main-main.

Selanjutnya fokus kepada penyembuhan TJ, vermin (ekstrak cacing) dan cen lok (obat sinshe untuk menaikkan trombosit) pun dikejartayangkan. Sementara cek darah ke lab setiap hari dilakukan. Puji Tuhan menjelang keberangkatan kondisi TJ membaik. Trombosit naik, walau leukosit masih naik turun.

Jadilah 14 Februari terbang ke Palembang. Komentar Kinar sesaat sebelum pesawat mendarat. “Ma, itu Palembangnya banjir ya?” Penasaran aku lihat ke jendela. “Oh.. itu sungai, nak…” Kinar hanya bilang “Ooooohh..” Tapi tetep aja wajahnya keliatan bingung. Soalnya memang sungainya besar banget

Setelah bertemu Yangkung dan Utinya, perjalanan darat lanjut menuju Muara Enim (sekitar 3 jam perjalananan).  Sesampai di tujuan hari sudah sore, setelah mandi dan makan dengan kuah tekwan, anak-anak langsung berlarian di sekitar rumah dinas yangkung-nya. Berkenalan dengan pepohonan, pohon kacang panjang, dan monyet lucu bernama Salsa.

Sore di hari kedua, kami menuju kota Muara Enim yang berjarak sekitar 1,5 jam perjalanan. Kita sempat mampir sebentar untuk melihat sungai Lematang. Hmmm.. sungai-sungai di Sumatera memang beda dengan sungai di Jawa. Berkeliling sebentar di Muara Enim, ke pasar dan nemu buah apau (seperti jengkol mini) dan ke minimarket beliin TJ roti dan cari sosis (sumpah, susah cari sosis kalo dah keluar kota Palembang).
Pulangnya kita mampir beli durian di daerah antara Muara Enim dan Ujan Mas. Penjualnya yang ramah dengan logat Sumatera yang kental memberikan durian-durian yang oke punya. Sayang, sang penjual (lupa nanya namanya) bilang kalau sudah sore menjelang malam seperti ini, durian yang super sudah habis. Tapi tetap saja menurut kami enak dan murah…

Hari ketiga kami berencana menyeberang sungai Lematang (tak jauh dari lokasi rumah dinas bapak). Ada dermaga mini yang bisa membawa kami menuju seberang sungai. Sampai di sana karena tak tahu arah, ya kami hanya melihat-lihat, ngobrol sedikit dengan penduduk, ngopi, melihat kebun duku (yang sedang tidak berbuah).


Pertama kali untuk TJ dan Kinar naik perahu menyeberang sungai besar

Jadi turis lokal tapi kesannya jadi kayak turis kesasar

buat yang belum tahu pohon duku, inilah pohonnya.. sayang sedang tidak berbuah

Hari keempat karena sudah ditunggu pekerjaan, suami berangkat pagi-pagi pulang duluan ke Jakarta. Aku dan anak-anak meneruskan menikmati alam di hutan. Dan salah satu rencana hari ini adalah berburu durian lagi.. ^_^
Malam harinya, tanpa disangka-sangka setelah beberapa hari ditunggu, lewatlah dua ekor anak babi hutan. Senang sekali TJ dan Kinar, jadi pengalaman menarik buat mereka, selain melihat gerombolan monyet liar.

Hari kelima untuk berpuas-puas TJ dan Kinar main di hutan dan bercengkerama dengan Salsa. Dan hari keenam, berangkat pagi-pagi menuju Palembang. Tak lupa kami sempatkan melihat dan berfoto di Jembatan Ampera, beli pempek candy, dan mengabulkan permintaan anak-anak makan fried chicken.. ^_^
Akhirnya waktu berpisah tiba juga dengan Yangkung dan Uti. Sempet delay 2 jam, akhirnya kami menuju Jakarta…



Terimakasih Yangkung, Uti, Om Aman, dan Tante Dian…
Love You all…

Kalau mau lihat foto-foto lengkapnya ada di FB-ku: Florentina Lenny atau klik di sini
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...